Tidak semua yang berhenti
sedang menyerah.
Sebagian hanya sedang mengembalikan
suara-suara yang terlalu lama dipinjam
oleh dunia.
Di sebuah sore yang biasa,
aku melihat seorang bapak
membenarkan sandal jepitnya
di pinggir jalan.
Ia tak tampak tergesa.
Barangkali memang ada umur
ketika perjalanan
tak lagi diukur dari cepat atau lambat,
melainkan dari seberapa jauh
kita masih sanggup mengucapkan,
"tidak apa-apa."
Aku pernah mengira
diam adalah lawan dari percakapan.
Belakangan aku tahu,
diam lebih sering menjadi rumah
bagi kalimat-kalimat
yang terlalu lelah untuk menang.
Mungkin itu sebabnya
langit tidak pernah menjelaskan
mengapa senja selalu datang
dengan warna yang berbeda.
Ia hanya muncul,
membiarkan orang-orang
menafsirkan sendiri
apa yang sebenarnya telah selesai.
Barangkali hidup memang begitu.
Tak semua kehilangan
memerlukan pemakaman.
Ada yang cukup disimpan
di saku sebelah kiri,
bersama struk belanja,
karcis parkir,
dan nama-nama
yang pelan-pelan
tak lagi kita panggil
dalam doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar