Ada orang yang tertawa
karena memang bahagia.
Ada pula yang tertawa
karena tak ingin menjelaskan
mengapa matanya belakangan
sering pulang lebih dulu.
Aku mengenal beberapa di antaranya.
Mereka datang tepat waktu,
menjawab seperlunya,
mengangguk ketika ditanya,
lalu menghilang
sebelum percakapan berubah
menjadi pertanyaan.
Barangkali bukan dunia
yang terlalu bising.
Mungkin kita saja
yang terlalu lama belajar
menyembunyikan suara sendiri.
Di dalam kereta,
di lampu merah,
atau saat menunggu kopi
yang tak kunjung cukup dingin,
selalu ada seseorang
yang sedang mengulang
kalimat yang sama
di dalam kepalanya.
"Besok juga lewat."
Kalimat itu sederhana.
Seperti kemeja yang digantung
di belakang pintu.
Dipakai berkali-kali,
tak pernah benar-benar baru,
tapi masih cukup layak
untuk menghadapi hari.
Aku pikir,
menjadi dewasa
bukan tentang berhenti merasa sedih.
Melainkan tahu
bahwa dunia
tetap berjalan,
meski ada bagian dari diri
yang belum sempat
ikut pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar