Senin, 25 November 2019

Selamat Hari Guru

Hari ini adalah Hari Guru Nasional. Mengingat kembali jasa jasa dari para guru saya mulai saya SD sampai Kuliah. Iya sampai kuliah, dosen bagi saya tidak ada beda dengan guru. Sama sama memberikan ilmu tiada tara.

Dari SD saya di ajarkan untuk jangan pernah meninggalkan sholat, mulai dari mana? Mulai dari wajib nya sholat Zuhur berjamaah di masjid. Waktu itu SD Islam Ruhama. Semua di cek satu satu, apakah ada yang tidak sholat Zuhur di masjid sekolah. Semua di cek satu satu apakah membawa peralatan sholat atau tidak. Jika tidak, selalu ada sanksi. Saya pernah sekali kedapatan lupa membawa peralatan sholat, saya menangis karenanya. Tapi karena itu, sekarang jika saya lupa membawa peralatan sholat saya menangis karena saya takut tidak bisa melaksanakan sholat.

Mulai masuk SMP, nilai nilai norma lebih di ajarkan disana. Tidak boleh pakai gelang di sekolah, masuk kelas tepat waktu apalagi kalau beres istirahat. Bukan hanya gelang, celana pun tidak boleh ngatung, kaos kaki harus putih, sepatu harus hitam. Waktu itu SMP N 3 TangSel. Sekolah yang menjadi saksi sejarah saya, ketika mendapatkan sahabat sejati saya, ketika saya pertama kali jatuh cinta beneran, ketika saya akhirnya nemuin apa yang saya cita cita in.

Akhirnya SMA, masuk pilihan sangat terakhir. Saya tidak masuk ke 2 pilihan utama saya. Ingat betul, saat ospek ada seorang guru bertanya kepada semua muridnya "di sekolah ini akan sulit, yang merasa tidak akan bisa mengikuti lebih baik mundur" kurang lebih seperti itu. Saya menerima tantangan itu, 3 tahun jatuh bangun saya kejar mimpi saya untuk lulus. Bolak balik masuk ruang guru, nakal? Bukan! Nilai saya pasti ada saja yang kurang. Tapi dengan begitu, saya menjadi sadar bahwa hidup itu persis seperti itu, ada saja yang kurang! Waktu itu SMA N 9 TangSel. Ketika saya merasakan betapa hangatnya sekolah itu menerima saya yang cukup jauh dari rumah ke sekolah, ketika saya di ajarkan untuk kerja sama team itu penting, ketika saya memahami arti "move on" dan "get on" itu seperti apa. Apa yang tertinggal disana? Gelar saya, sebagai "pacarnya si itu tuuuuuh" gapapa, memang dulu kami saling bucin satu sama lain. Duh jadi kangen? Eh maaf melenceng.

Kuliah. Setelah memilih PTN yang terbaik di Bandung menurut saya, dan tidak masuk (sesuai perkiraan saya) tapi saya sudah punya persiapan, Universitas Islam Bandung. Kampus swasta yang mengubah hidup saya. Pertama kali dalam hidup saya bertemu dengan banyak manusia dari berbagai suku, dan adat. Dengan tiap mata kuliah yang selalu memberikan sebuah makna yang akhirnya membuat saya berpikir "oh jadi maksudnya tuh begini" yang kadang sebenarnya tidak masuk ke dalam makna akademik nya tapi dalam kehidupan bisa saja nyambung (sekali lagi, menurut saya). Kampus yang mana ilmu saya dari SD, SMP dan SMA berguna. Saya mampu menaati aturan disana, saya terbiasa sholat di masjid ketika Zuhur, dan saya pada akhirnya selalu bolak balik memperbaiki nilai saya yang memang ternyata saya harus benar benar banyak belajar. Dimana semua yang sudah saya pelajari di upgrade di kampus ini. Belum lagi ada pesantren yang bikin saya ga penasaran lagi "pesantren tuh kayak gimana sih?" Dan selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa membaca Al Qur'an (walaupun sering juga saya lupa) agar tidak lupa cara bacanya.

Tiap waktu saya mencoba mengambil intisari dari apa yang saya di ajarkan oleh para guru saya. Semua selalu menjadi guru saya, saya di ajarkan pula bahwa tidak ada kata mantan untuk guru. Guru adalah orang tua kita juga. Mereka juga yang akan khawatir jika kita mungkin mendapatkan masalah di kehidupan nyata yang tengah kita jalankan. Tidak banyak saya boleh katakan karena memang rasa sayang saya kepada guru tidak semudah itu diutarakan. Pokoknya sayang banget deh! Saya hanya bisa mohon maaf kepada guru-guru saya, karena saya sedang susah susah nya "mampir" ke sekolah karena jarak yang cukup jauh. Dan saya sangat bangga kepada teman teman sepermainan dan seperjuangan yang mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan dengan menjadi seorang guru. Karena pasti tidak mudah, tapi kalian mau. Saat ini pula, kalian merasakan betapa kalian sangat di cintai oleh murid kalian. Tuntunlah terus murid kalian agar kiranya menjadi yang baik, karena mengajari yang baik kelak balasannya akan kau rasakan nanti.

Kepada seluruh guru di dunia, saya ucapkan #SelamatHariGuru.

You'll Love This Sh#t

Cari Blog Ini