Senin, 23 Desember 2019

Sebatang Rokok dan Secangkir Kopi Hitam

Pada hari dimana aku menemukan seorang wanita yang cantik parasnya, tidak tahu harus berbicara apa bahkan badan yang kaku. Gedebug! Begitu cara dia memukul perutku yang tidak gede gede amat ini. Satu pukulan, aku tidak merasakan sakit walau memang hantaman yang cukup keras. Heran, kenapa aku malah semakin jatuh kedalam cinta. Apakah cinta memang sangat dalam? Sehingga ketika jatuh di dalamnya aku sungguh sulit untuk keluar.

"Hendak pergi kemana?" kata ku.

"Pulanglah, sebentar lagi ayahku menjemput." jawabnya masih ketus. Aku hanya memanggut tanda mengerti, dan mengeluarkan statement bahwa mungkin dia sedang PMS. 

"Oh sama, bapakku juga sebentar lagi sampai, tapi kita beda arah, aku kesana ya?"
Dia hanya memanggut, tanda mengerti. 

"Assalamu'alaikum" bapakku datang menjemput.

"Wa'alaikumsalam" aku menyalaminya dan menaiki motor.

"Bagaimana sekolah?"

"Tidak ada yang baru"

Tidak ada jawaban, mungkin dia tidak mendengar, atau jawabanku sudah tidak harus di pertanyakan lagi. Kami berdua diam sampai tiba di rumah.

"Bapak jemput adikmu dulu ya, bilang ke ibu, bapak dan adik akan telat makan, kamu berdua saja dulu makan" kata bapak.

"Oh baik lah, dia ada les bukan?" tanyaku

"Iya, tapi bapak mau ngerokok dulu di warung dekat sekolah adikmu"

"Ohhhhhh"
.
.
.
"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam nak, yuk makan" jawab ibuku

Loh aku belum ngomong apa apa kok.

"Bapak udah bilang?"
"Paling mau ngerokok di warung deket sekolah adikmu"

PFFFT. Aku yang sedang minum tersedak heran. Kenapa ibu sudah tahu?

"Umurmu berapa sekarang?" tanya ibu.

"15 tahun"

"Berarti sudah hampir 2 dekade ibu sama bapakmu menikah, sudah tidak perlu ngomong dia mau kemana, kami sudah saling paham" jawab ibu tanpa ada pertanyaan yang aku tanyakan langsung.
.
.
.
"Ngapain pak?" tanyaku ke bapak yang sedang duduk di teras rumah entah ngapain.

"Ngelinting rokok" jawab dia.

"Kok ga beli aja di warung?"

"Kalau kita ngerokok tapi masih make rokok rokok di warung, kita cuma menikmati rokoknya, tapi dengan ngelinting kita bisa memahami tembakaunya" jawab bapak sok filosofis.

Aku tertawa, sambil masuk menuju kamar. Menghempaskan badanku ke kasur ku yang sudah banyak kawat kawat keluar dari tempat peristirahatnya. Sempat aku iseng bertanya.

"Kamu ngapain sih keluar keluar?"

"Aku sudah tua! kamu paham?" jawab kawat.

"Jangan keluar mulu! di ganti baru tau rasa kamu?"

"Ganti saja, memang kau punya duit?" jawaban yang akhirnya aku tidak mampu menjawab apa apa.

Seperti biasa, aku tenggelam di dalam fantasi yang tiada henti. Hampir setiap hari begini, mungkin kebanyakan nonton film film berantem ya? Seperti Super Sentai, Kamen Rider, Ultraman. Aku selalu membayangkan bahwa akan ada manusia super jenius namun jahat mengubah dirinya menjadi monster super kuat hanya untuk menakuti manusia, dan aku datang sebagai pahlawan dengan kostum yang memberikanku kekuatan super lalu mengalahkannya.

"Sudah malam, jangan kebanyakan mengkhayal! Kamu di panggil ibu" kata kakakku yang tiba tiba masuk kamarku.

Aku langsung bangun dan menghampiri ibu yang sedang berada di dapur.

"Kenapa bos?"

"Anterin kopi ini ke bapakmu" jawab ibu.

"Kenapa aku? kan tadi ada kakak"

"Kamu gamau ibu suruh?

Skakmat.

"Pak, ini kopi dari bos besar"

"Kalau ibumu bos besar, lalu apa jabatan bapak?" tanya bapak.

"Presiden perusahaan, lalu aku, kakak dan adik adalah karyawan yang kalian bayar tiap bulan, masuk akal kan?"

Kami berdua tertawa. Kadang fantasiku bisa saja membuat tawa. 

"Kamu mau nyoba?" tanya bapak lagi.

"Rokok? engga ah! ga tertarik" jawabku.

"Kopi buatan ibumu"

"Oh, mana coba"

"Pelan"

Slllrrpt.

"Enak?"
"Pahit, aku gasuka!"

"Begitulah tubuh anak anak, mereka tidak selalu cocok dengan kopi dan rokok. Kopi ini dibuat dengan satu sendok teh bubuk kopi, dan bubuknya harus sampai menggunung lalu baru di masukkan ke dalam cangkir, tapi tidak pakai gula. Cocok untuk remaja sebenarnya, sampai umurmu cocok jangan coba coba ya!"

Aku manggut, peringatan bapak cukup masuk akal kali ini. Sebatang rokok dan secangkir kopi hitam memang tidak cocok untukku.

Sabtu, 14 Desember 2019

Rindu Tak Bertuan

Malam minggu, aku sendiri di balik pintu. Sendiri lagi, dan ya seperti kamu tahu, aku hanya sendiri. Boleh lah, kamu hitung dari berapa wanita aku ajak keluar untuk berkencan. Bisa tidak kamu menghitungnya? Bagus lah kalau tidak, aku juga tak mampu menghtungnya. Terlalu banyak? Iya terlalu banyak yang tidak berlanjut.

Aku melihatmu tersenyum indah layaknya kita dahulu berkata "Dadah, Assalamu'alaikum, I Love You". Sengaja aku pertegas agar kamu ingat saat itu kembali. Tapi, jika kamu tetap tidak ingat, tidak mengapa. Aku yakin kamu hanya pura-pura.

Tiap malam, kamu pasti tahu apa yang akan aku katakan. "bete banget deh, hari ini..." dan kamu selalu menjawab "sama aku juga". Mungkin tidak tiap malam, aku hanya hiperbola. Hanya satu hal yang pasti, pertanyaan yang tidak pernah aku lupa "pergi kemana? sama siapa?". Aku selalu menjawab "ke kosan teman, ya dengan teman teman. Pertanyaanmu kembali menghantui seperti biasa kala itu "perempuan?" jawabanku juga yang menghantui "Campur".

Campur. Kata ku waktu itu, kamu marah. Jelas, kamu dengan siapapun saja kadang aku marah. Aku tahu bahwa itu tidak adil jika aku kesal saat kamu marah. Kadang aku pun rindu, kamu marahin. Padahal dulu aku sangat tidak suka. Saat kamu marahin, bukan perkara kenapa kamu marah, tapi saya rindu sama kamu, dan kamu marah marah. Siapa yang suka sih? Kamu juga tidak.

Kalau saya pulang, kamu akan selalu kerumah. Rumah orang tua saya, datang bermain, kadang berpelukan, kadang... ya gitu deh. Kamu selalu marah. Saya selalu marah. Kita adalah dua insan bergurau marah, namun ada Rindu yang Tak Bertuan. Harus berpisah, bukan karena jarak, tapi karena nada kita mungkin tidak sama.

Senin, 25 November 2019

Selamat Hari Guru

Hari ini adalah Hari Guru Nasional. Mengingat kembali jasa jasa dari para guru saya mulai saya SD sampai Kuliah. Iya sampai kuliah, dosen bagi saya tidak ada beda dengan guru. Sama sama memberikan ilmu tiada tara.

Dari SD saya di ajarkan untuk jangan pernah meninggalkan sholat, mulai dari mana? Mulai dari wajib nya sholat Zuhur berjamaah di masjid. Waktu itu SD Islam Ruhama. Semua di cek satu satu, apakah ada yang tidak sholat Zuhur di masjid sekolah. Semua di cek satu satu apakah membawa peralatan sholat atau tidak. Jika tidak, selalu ada sanksi. Saya pernah sekali kedapatan lupa membawa peralatan sholat, saya menangis karenanya. Tapi karena itu, sekarang jika saya lupa membawa peralatan sholat saya menangis karena saya takut tidak bisa melaksanakan sholat.

Mulai masuk SMP, nilai nilai norma lebih di ajarkan disana. Tidak boleh pakai gelang di sekolah, masuk kelas tepat waktu apalagi kalau beres istirahat. Bukan hanya gelang, celana pun tidak boleh ngatung, kaos kaki harus putih, sepatu harus hitam. Waktu itu SMP N 3 TangSel. Sekolah yang menjadi saksi sejarah saya, ketika mendapatkan sahabat sejati saya, ketika saya pertama kali jatuh cinta beneran, ketika saya akhirnya nemuin apa yang saya cita cita in.

Akhirnya SMA, masuk pilihan sangat terakhir. Saya tidak masuk ke 2 pilihan utama saya. Ingat betul, saat ospek ada seorang guru bertanya kepada semua muridnya "di sekolah ini akan sulit, yang merasa tidak akan bisa mengikuti lebih baik mundur" kurang lebih seperti itu. Saya menerima tantangan itu, 3 tahun jatuh bangun saya kejar mimpi saya untuk lulus. Bolak balik masuk ruang guru, nakal? Bukan! Nilai saya pasti ada saja yang kurang. Tapi dengan begitu, saya menjadi sadar bahwa hidup itu persis seperti itu, ada saja yang kurang! Waktu itu SMA N 9 TangSel. Ketika saya merasakan betapa hangatnya sekolah itu menerima saya yang cukup jauh dari rumah ke sekolah, ketika saya di ajarkan untuk kerja sama team itu penting, ketika saya memahami arti "move on" dan "get on" itu seperti apa. Apa yang tertinggal disana? Gelar saya, sebagai "pacarnya si itu tuuuuuh" gapapa, memang dulu kami saling bucin satu sama lain. Duh jadi kangen? Eh maaf melenceng.

Kuliah. Setelah memilih PTN yang terbaik di Bandung menurut saya, dan tidak masuk (sesuai perkiraan saya) tapi saya sudah punya persiapan, Universitas Islam Bandung. Kampus swasta yang mengubah hidup saya. Pertama kali dalam hidup saya bertemu dengan banyak manusia dari berbagai suku, dan adat. Dengan tiap mata kuliah yang selalu memberikan sebuah makna yang akhirnya membuat saya berpikir "oh jadi maksudnya tuh begini" yang kadang sebenarnya tidak masuk ke dalam makna akademik nya tapi dalam kehidupan bisa saja nyambung (sekali lagi, menurut saya). Kampus yang mana ilmu saya dari SD, SMP dan SMA berguna. Saya mampu menaati aturan disana, saya terbiasa sholat di masjid ketika Zuhur, dan saya pada akhirnya selalu bolak balik memperbaiki nilai saya yang memang ternyata saya harus benar benar banyak belajar. Dimana semua yang sudah saya pelajari di upgrade di kampus ini. Belum lagi ada pesantren yang bikin saya ga penasaran lagi "pesantren tuh kayak gimana sih?" Dan selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa membaca Al Qur'an (walaupun sering juga saya lupa) agar tidak lupa cara bacanya.

Tiap waktu saya mencoba mengambil intisari dari apa yang saya di ajarkan oleh para guru saya. Semua selalu menjadi guru saya, saya di ajarkan pula bahwa tidak ada kata mantan untuk guru. Guru adalah orang tua kita juga. Mereka juga yang akan khawatir jika kita mungkin mendapatkan masalah di kehidupan nyata yang tengah kita jalankan. Tidak banyak saya boleh katakan karena memang rasa sayang saya kepada guru tidak semudah itu diutarakan. Pokoknya sayang banget deh! Saya hanya bisa mohon maaf kepada guru-guru saya, karena saya sedang susah susah nya "mampir" ke sekolah karena jarak yang cukup jauh. Dan saya sangat bangga kepada teman teman sepermainan dan seperjuangan yang mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan dengan menjadi seorang guru. Karena pasti tidak mudah, tapi kalian mau. Saat ini pula, kalian merasakan betapa kalian sangat di cintai oleh murid kalian. Tuntunlah terus murid kalian agar kiranya menjadi yang baik, karena mengajari yang baik kelak balasannya akan kau rasakan nanti.

Kepada seluruh guru di dunia, saya ucapkan #SelamatHariGuru.

Rabu, 23 Oktober 2019

Episode 2 - Minta Nomor WhatsApp part 1 - 30 Episode Menuju Cahaya

Jadi, setelah kenalan sama Vina, banyak juga info yang gue dapet. Kayak misalnya, ternyata rumahnya dia di Pamulang, gue di Cirendeu. Ga jauh jauh amat lah ya, untuk ke sana gue ga harus jual ginjal buat ongkos pulang pergi. Bisa lah gue ngemis ke bokap atau nyokap.

Walaupun profesi gue sebagai tukang ojek online atau biasa di sebut "ojol", gue masih suka minta uang jajan "uang rokok" kalo kata orang mah. Entah kenapa, bokap nyokap masih aja suka ngasih. Emang sih gue jadi ojol cuma biar bisa ngumpulin uang sendiri buat nikah nanti. Gapapa lah jadi Ojol, asal halal. Ye ga?

Profesi yang gue jalanin sekarang ga bikin gue malu untuk kenalan sama cewek manapun. Tapi, gue rasa banyak cewek yang malu kenalan sama gue. Bukan malu malu kucing, melainkan malu sama orang kalo ada yang tau. Duh ya underestimate banget. Please atuh.

Vina adalah orang yang bener bener open minded karena dia tau gue adalah supir ojol tapi tetep mau bales chat gue. Waktu itu, gue lagi nongkrong di Tenda Hijau. Itu sebutan untuk tempat nunggu orderan bagi para supir Ojol. Gue punya temen baik di pangakalan ini, yang sering gue curhatin tentang apapun itu. Namanya Rojak. Anaknya alim banget, sering jadi ustad yang tausyiah gitu di masjid. Kerenlah pokoknya, gue aja tobat gara gara anak ini.

"Lo kenapa Ren? Murung amat. Katanya baru kenalan sama cewe" tanya Rojak.

"Iya nih, gue pake aplikasi tinder kan chattingan nya jadi balesnya suka lama"

"Mintain WA nya lah, kok susah amat sih"

Gue sedang berpikir, bahwa Rojak ini gampang banget ngomong. Kalo bukan bocah alim udah gue bejek bejek ni anak. Duh untung gue sayang sama temen gue satu ini.

"Gampang banget lo ngomong Jak Jak, baru juga 5 hari kenal"

"Dih najis banget, dah kayak bocah Lo ngitung ngitung hari kenalan, ngaca apa ngaca muke Lo jauh!"

Emang ni anak kadang kadang kalo ngomong sama gue suka ga mikir dulu. Dia juga pernah mengakui bahwa "gue sama Lo doang nih bisa ngomong kayak gini". Yah itung itung bales kebaikan dia yang bisa bikin gue tobat, gapapa lah gue jadi sasaran bacotan nya dia.

"Eh gue dapet orderan nih, duluan Jak"

"Tunggu"

"Apaan lagi si?"

"Gue duluan jalan, gue juga dapet"

Dia langsung nyalain motornya dengan tombol starter ga kayak gue yang ga harus di selah dulu. Emang dasar bocah bangke. Astaghfirullah.

Setelah dari orderan yang kami dapatkan bareng bareng, kami udah ga ke pangkalan. Karena kami dapet orderan berkali kali sampe akhirnya Maghrib tiba. Gue sama dia emang menjadwalkan untuk berhenti "nge-bid" kalau kata istilah ojol, pada saat Maghrib. Ga di lanjut, abis itu pulang.

"Assalamu'alaikum" kata gue memasuki rumah.

"Wa'alaikumsalam" jawab bokap sama nyokap.

"Dian kemana mah?" Tanya gue kebingungan biasanya adek gue langsung menyambut.

"Ke rumah temannya, kerja kelompok" jawab nyokap.

"Halah paling main, kalo ka Aiy?" Gue bergantian menanyakan Kaka gue.

"Hush suudzon aja kamu! Kalo Kaka mu ya pergi sama Reza, pacarnya itu loh"

Halah semuanya aja main. Gue mau main sama siapa coba? Masa sama bokap nyokap. Paling kalo sama nyokap gue cuma bantu masak atau ngobrol sambil ngopi. Kalo sama bokap, paling gue ikutan ngerokok. Tapi hari ini lagi lelah banget. Gue gamau ngapa-ngapain selain rebahan.

*Ting nung* "You've got One Message"

Eh Vina, tumben amat ngechat duluan.

"Capek ya abis nge-bid?" Tanya dia

"Hahaha iya nih, sampe mau makan aja ga mood" bales gue.

"Kasian anak mamah"

"Eh ngomong ngomong, tadi aku dapet banyak banget orderan lho, tapi kurang satu yang belum aku dapet"

"Apaan?"

"Nomor WhatsApp kamu"

Di balesnya lama.

Bajingan, gue ngomong apa barusan. Duh Rendi lo ga di lahirin Tuhan dengan otak dungu.

Gue terus mendumelkan diri gue sendiri. Padahal baru ga di bales 10 menit. Tiba tiba nyokap datang membawakan satu gelas teh hangat.

"Kamu kenapa sih Ren?"

"Eh gapapa mah, makasih mah"

"Mamah sama papah mau jalan jalan, kamu mau ikut?"

"Engga deh mah, aku dirumah aja ngeteh bikinan mamah, lagian aku capek"

*Ting nung* "You've got One Message"

Anjrit! Duh gimana nih. Apa gue buang aja hp nya ya. Eh besok gue ngojek gimana.

"Buka aja kenapa sih?" Kata Dian baru balik dari rumah temennya.

"Lo sejak kapan bisa dengerin suara hati gue?"

"Lo teriak teriak bego! Jangan cemen apa jadi cowok! *Brak*" Dian ngomong gitu sambil banting pintu kamar gue.

Akhirnya gue buka isi pesan dari dia.

Here we go.....1 2 3



#ToBeContinued

Sabtu, 12 Oktober 2019

Episode 1 - Kenalan - 30 Episode Menuju Cahaya

"jadi, Lo kenalan sama dia dari mana tadi?"

"Tinder"
.
.

Oke, kenalin, gue Rendi. Another time, another story. Maybe some of you been asking the same thing i did. "Why the sh#t the previous story was not even updated and now the sh#t is gone". Well, i'm asking the same thing, actually. I don't know, the author been sick of that, maybe? *Yeah, kinda, thanks Ren* Oh no problem.

Gue adalah orang yang biasa sih. Bisa lah deket sama siapa aja. Contohnya waktu bulan puasa, gue bisa deket sama bapak bapak yang ngasih gue makanan ringan untuk berbuka saat sedang dalam perjalanan dari Bandung - Jakarta. Kami ngobrol banyak lumayan.

Yah gue ngobrolnya sama bapak bapak emang. Ga pernah berani ngobrol sama cewe, walaupun duduk udah sebelahan. Gue tetep diem aja padahal harusnya kan PD aja ya? Mungkin, ini karena gue udh kelamaan sendiri. #np Kunto Aji - Terlalu Lama Sendiri. Duh.

Setelah gue udah lama banget sendiri, gue sadar gue udah hampir bulukan. Saat lagi nonton Spiderman : Far From Home di hp tiba tiba ada suara "download tinder bego" dan dengan reflek nya gue langsung download tanpa ada keraguan.

Gue membuat info yang sangat jujur. Laki laki, muka tua, suka banget sama anak muda. Walaupun sempet hopeless, ternyata lumayan juga ada yang "match" sama gue. Tiga orang lah, setidaknya. Lumayan kan?

Mereka bertiga ialah Ratih, Vina, dan Suci. Dari mereka bertiga, cuma Vina yang mau bales chat gue. *lo nih kasian banget ya, udah cuma 3 yang match, terus cuma seorang lagi yang mau bales* It's not your business, Thor.

"Punten"

"Mangga"

"Vina nya ada Bu?"

"Ga ada, Vina lagi pergi keluar kota"

Seenggaknya itu lah percakapan pertama kami sebagai orang yang baru aja "kenalan" dan sebagai orang yang udah lama bulukan banget, gue gatau sih cara gue ini salah apa engga. Engga kali ya?





#ToBeContinued

You'll Love This Sh#t

Cari Blog Ini