Sabtu, 14 Desember 2019

Rindu Tak Bertuan

Malam minggu, aku sendiri di balik pintu. Sendiri lagi, dan ya seperti kamu tahu, aku hanya sendiri. Boleh lah, kamu hitung dari berapa wanita aku ajak keluar untuk berkencan. Bisa tidak kamu menghitungnya? Bagus lah kalau tidak, aku juga tak mampu menghtungnya. Terlalu banyak? Iya terlalu banyak yang tidak berlanjut.

Aku melihatmu tersenyum indah layaknya kita dahulu berkata "Dadah, Assalamu'alaikum, I Love You". Sengaja aku pertegas agar kamu ingat saat itu kembali. Tapi, jika kamu tetap tidak ingat, tidak mengapa. Aku yakin kamu hanya pura-pura.

Tiap malam, kamu pasti tahu apa yang akan aku katakan. "bete banget deh, hari ini..." dan kamu selalu menjawab "sama aku juga". Mungkin tidak tiap malam, aku hanya hiperbola. Hanya satu hal yang pasti, pertanyaan yang tidak pernah aku lupa "pergi kemana? sama siapa?". Aku selalu menjawab "ke kosan teman, ya dengan teman teman. Pertanyaanmu kembali menghantui seperti biasa kala itu "perempuan?" jawabanku juga yang menghantui "Campur".

Campur. Kata ku waktu itu, kamu marah. Jelas, kamu dengan siapapun saja kadang aku marah. Aku tahu bahwa itu tidak adil jika aku kesal saat kamu marah. Kadang aku pun rindu, kamu marahin. Padahal dulu aku sangat tidak suka. Saat kamu marahin, bukan perkara kenapa kamu marah, tapi saya rindu sama kamu, dan kamu marah marah. Siapa yang suka sih? Kamu juga tidak.

Kalau saya pulang, kamu akan selalu kerumah. Rumah orang tua saya, datang bermain, kadang berpelukan, kadang... ya gitu deh. Kamu selalu marah. Saya selalu marah. Kita adalah dua insan bergurau marah, namun ada Rindu yang Tak Bertuan. Harus berpisah, bukan karena jarak, tapi karena nada kita mungkin tidak sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

You'll Love This Sh#t

Cari Blog Ini