Aku belajar menghormati jarak
sebab dia selalu tahu caranya tiba lebih dulu,
Berjalan seolah ditemani kesendirian
yang tak butuh namaku di sampingnya
sambil berlalu.
Aku si paling acuh dan kurang peduli,
ceroboh tiada tara—
namun selalu bertahan
dan kembali.
Barangkali perhatian memang seharusnya
“jangan dipendam”,
bukan dikerjakan diam-diam.
Tentang masa depan,
aku memilih bicara tanpa beban.
Beberapa rencana memang lebih aman
disimpan,
daripada sebelum sempat tumbuh
sudah ditertawakan.
Dalam waktu yang merendahkan—
mengubur,
menghambat langkah ke depan—
aku tak sedikit pun menyangkal:
orang yang bertahan paling lama
biasanya memang terlihat
seperti penghalang.
Secara sopan, perlahan aku diam
saat kata-kata mulai tajam.
Sebab menjelaskan diri
hanyalah napas mubazir
pada mereka
yang telah memutuskan
untuk salah paham.
Sekarang aku paham,
kehadiran pun ada batas sopannya.
Terlalu lama bertahan
kadang hanya mengubah niat baik
menjadi gangguan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar