Ada jarak yang tak pernah selesai kutempuh,
lalu kretek jadi kawan, menyalakan sunyi di tiap helai abu.
Asapnya menari, membawa pergi resah,
membungkus hening yang lama singgah.
Di antara linting, ada sabar yang ku uji,
ada waktu yang kucoba tenun kembali.
Setiap tarikan jadi tanda tanya,
tentang hidup yang terus berjalan, meski hati kerap tertinggal di belakangnya.
Aku menulis bukan untuk siapa-siapa,
hanya catatan pada dinding jiwa.
Kretek ini saksi, diam tak pernah membantah,
hanya ikut terbakar, habis, lenyap bersama gelisah.
Seribu alasan kumiliki untuk terus bertahan,
meski sesak datang, meski luka enggan pergi pelan.
Dan ketika hari berakhir tanpa jawaban pasti,
aku tahu—diri ini masih belajar berdamai,
sampai waktu sendiri yang berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar