Line gue bunyi, yang bikin gue kebangun padahal lagi mimpi indah. Siapa sih?! ganggu aja! Pikir gue. Ternyata Karina nge line gue screenshoot-an WhatsApp dari mba Rina untuk dia. Isinya Karina di terima jadi penyiar di RPD fm.
Gue: Selamat ya! See you on the studio!
Karina: siap kapten!
Gue siap siap buat mandi karena mau ke kantor. Tiba tiba ada Line masuk, dan itu dari Nadya.
Nadya: Rico, bisa ketemu?
Gue: bisa Nad, hari apa?
Nadya: Hari sabtu jam 7, di cafe StarBox
Entah kenapa gue biasa aja pas Nadya mau ajak ketemu. Apa bener kata dia kalo hati gue emang belum siap nerima siapapun?
"Lah bagus dong kalo nadya ngajak ketemuan" samber Marco yang lagi mampir ke kantor gue.
"Ya bagus bagus aja sih, cuma ya kenapa gue biasa aja gitu, mana gue udah ngomong ama bokapnya kalo mau macarin anaknya"
"Lagian gercep banget sih! Eh btw kemarin gue ketemu Karina mantan lo di Essairia Mall"
"Lo salah liat kali, muka dia kan pasaran"
"Bandel amat si di kasih taunya"
.
.
*Sabtu jam 7 di Cafe StarBox*
Gue nyamperin Nadya, dan dia ga sendiri...
"Hai Nad...."
"Halo Rico"
Orang yang bales sapaan gue bukanlah Nadya. Dia adalah orang yang selama ini gue tungguin.
"KARINA?!"
"ini adalah alasan kenapa aku nolak kamu Rico"
"But.. How can you guys know each other?"
"Well.. Believe it or not, kami berdua adalah teman kecil dan udah sering chatting lewat facebook" jawab Karina
"Kok aku ga pernah tau?" gue tanya lagi
"Aku takut aja kamu suka sama Nadya dan aku takut Nadya suka sama kamu.. Ternyata... "
"Thought you never come back, rumor says you're gonna marry with somebody else"
"What?! That's bullshit!"
"Lagian aku juga tau sebenarnya kamu masih sayang sekali sama Karina"
"Btw kok kamu tau aku mantannya Rico?" tanya Karina ke Nadya
"Tau dong, orang Rico ngasih liat foto kalian berdua hahaha"
Kami bertiga ketawa ngakak. Ternyata dunia emang sempit. Tapi, akhirnya gue ga nebak nebak. Gue ga nuduh sembarangan.
"Kalian kan udah ketemu nih sekarang, saling tuker kontak aja deh biar ga lost lagi"
"Tapi Nad.. How bout you?"
"Rasa cinta ga bisa ngorbanin persahabatan kita Karina. Aku sayang sama Rico. Tapi layaknya manusia, ia pantas bersama orang yang ia cintai dan orang yang sama sama mencintainya. Rico sayang kamu dan bukan aku, lalu kamu sayang sama Rico"
Terus mereka pelukan. Gue rada nyes banget denger omongan Nadya. Gue ga nyangka ternyata selama ini Nadya bener sayang sama gue. Tapi gue ga bisa bohongin diri gue, gue emang masih sayang sama Karina. Bodoh, jahat, kejam.
"Okey, it is time for me to go home"
"Wait..."
"Kenapa Rico?"
"Terima kasih untuk semua"
Nadya cuma ngasih gue senyum yang selalu menghiasi pipinya. Nutupin sedih, gue bisa baca bahasa tubuhnya. Dan tatapan mukanya seakan mengatakan "semoga kalian bahagia" tapi ga bisa karena takut keceplosan nangis.
Gue sama Karina megang tangan satu sama lain. Mata kami bertemu. Sudah lama sekali rasanya gue ga mandang dia sedekat ini. Yang akhirnya gue memberanikan diri untuk nanya.
"Kamu.. Belum punya anak kan?"
(BUUUGH)
Karina mukul perut gue. Okey, gue salah nanya.
"There is so much thing i really want to tell you" kata Karina sambil meluk gue.
"I really wanna hear everything about what you wanna tell me" jawab gue sambil bales pelukan dia.
(Plok plok plok)
Biasa. Perusak suasana datang. MarcoGamalDemian. Entah dari mana mereka ngikutin gue, entah dari mana mereka tau gue dimana. Curiga gue, jangan jangan tiap sempak gue di pasangin gps. Haha bego. *nyadar?* iya.
"Makanya lu kalo di kasih tau abang lu ino nurut jan bandel!" kata Marco
"Iye iyee"
"Hmm ada pajak balikan nih!" kata Gamal dan Demian bebarengan.
"Ga ada hukumnya di Indonesia!"
Kata gue sambil narik Karina pelan dan ngasih dadah ke mereka. Intinya, gue senang banget semua kembali normal. Or maybe that's only what i see...
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar